Tuesday, 1 November 2016

Majalengka Part 1 (Pertemuan)

Majalengka masih tetap memiliki daya tarik. Bahkan kali ini lebih gila. Rasa ini yang membuat saya selalu ingin pulang. Bertemu dengan kawan kawan seperjuangan, satu persatu haru demi haru terasa.

Kopi, seperti biasanya menjadi penghubung topik kita, terlihat jelas perubahan pemikiran menjadi lebih maju dari mereka, itu yang saya harapkan.
Waktu, sedikit demi sedikit kita habiskan sudah, sembari menunggu yang lain datang. Malam itu semua berkumpul, riang tanpa haru seakan mengisi keheningan malam syahdu. Ibu Sri, Luthfi, Wanda, Ritza, dan Robi yang pertama saya temui hingga malamnya berangkat lah kita ke ketinggian yang selalu menjadi ketenangan abadi. Tempat ini agak berubah kecuali dingin dan nyamannya yang membuat kita seakan ingin tetap tinggal disini. Malam itu diisi dengan diskusi, keingintahuan dan bercandaan.

Habis waktu ini, esok harinya saya isi dengan kopi lagi, ditempat biasa kami kumpul kumpul,walau sesekali saya tinggal untuk berburu buku. Petangnya, datanglah rombongan hujan hujanan; Deva, Alwin, Isa, Dama juga David datang seakan melengkapi. Sapaan hangat ditengah dinginnya suasana hujan ini yang lantas saya sangat rindukan. Malam semakin panjang, gelap semakin larut mereka pamit untuk sekedar ganti pakaian. Saya yang kian semangat untuk mengenang sesuatu yang hilang sendirian, tak lama Zaky dan Doni datang mengagetkan, banyak perubahan terjadi pada mereka, oh Bandung jago lah kamu membuat mereka lebih maju.

Hingga tengah malam, datang lagi Viar dan Bimi meramaikan kehangatan. Selalu saja begitu, mereka adalah hal yang sulit digambarkan. Malamnya kita putuskan melanjutkan obrolan di Indomaret Babakan Jawa, biasa. Hingga paginya kita berdiskusi. Bercerita ringan apa yang kita temukan diperantauan...

Majalengka, 27,28,29 Oktober 2016

Thursday, 27 October 2016

One More Step

Memang, tak ada yang lebih indah daripada pertemuan.
Sesampainya distasiun saya disambut oleh seorang teman yang dulu, waktu kita masih SMA berjuang bersama. Terimakasih ya Allah telah memberikan kenikmatan berupa hangatnya pertemanan. Yang ada saat kita membutuhkan, yang senantiasa mendukung saat kita dijatuhkan.

Cirebon malam tidak seperti Jogja, maupun Bantul, disini sepi. Tidak banyak yang berubah sejak saya terakhir kesini. Tapi dari sini hanya satu jam untuk "pulang". Kadang iri rasanya, teman yang kuliah disini bisa pulang jika ia merasa rindu, kapanpun ia mau.
Tapi saya, jarak saja membentang. Bisa Pulang pun merelakan waktu dan uang.

Ini bukan tentang kuat atau tidak, masalah rindu tidak bisa disembunyikan, apalagi kepada orangtua.

Satu Langkah Lagi
Tidak sabar rasanya menyambut pagi
Tidak sabar rasanya pulang kembali
Matahari bersinar mengantarkan kepulangan
Membawa raga menebus kerinduan

-Gilang Haryanto-
Majalengka i'll coming
Cirebon, 27 Oktober 2016

This Is My Time

Pertama kali dalam sejarah hidup saya merasakan kendaraan sejuta umat ini. Ada pun yang saya rasakan adalah kenyamanan, jauh dari yang pernah saya dengar. Katanya dahulu, seringnya penumpang merasa tidak nyaman karena ketidakteraturan didalam gerbong. Katanya dahulu, orang membawa tikar, bantal dan lain-lain kedalam gerbong. Sehingga, susahnya penumpang lain untuk lewat keluar ataupun sekedar untuk ke kamar kecil. Tapi semuanya berubah, cukup cepat. Dalam hal ini perusahaan negara mendapat nilai plus dari saya.

Banyak yang saya pelajari disini, dewasanya kita harus lebih peka melihat keadaan sekitar. Saya belajar bersabar dikala menunggu kereta yang akan saya tumpangi datang. Kereta yang akan membawa saya pulang. Keadaan sekitar banyak mengandung makna yang terselubung.

Keinginan pulang ini, tidak bosan-bosan saya utarakan. menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Saya merasakan keinginan kali ini ada sebab nya, memang karena rindu ini menggebuk-gebuk. Tapi saya pikir ada hal lain yang sampai-sampainya menarik keinginan ini begitu kuat.

Meskipun akan terjadi sesuatu, masa bodo. Yang penting untuk sekarang saya dalam perjalanan pulang, yang dengan cepat atau lambat akan tahu jawaban dari semua ini.

Perjalanan yang nikmat, ditemani sentuhan musik klasik The Beatles, dan oleh Sore yang seakan tak ingin kalah walaupun menempuh jalur indie. Tak ketinggalan pula ditemani buah tulisan Soe Hok Gie si kritis.

"Rumah", sebentar lagi saya datang.

18.36
Gajahwong 13D, 26 Oktober 2016

Tuesday, 25 October 2016

Rindu Untuk Pulang

Terlalu cepat rindu ini datang, seakan apa yang saya lakukan hanya untuk mengisi waktu yang luang. Yang saya rasakan hanya kejenuhan yang datang bertubi-tubi, hal yang terpikir hanya lah pulang. Ya, pulang seakan ada yang tertinggal dikota kecil sana yang penuh dengan tulisan-tulisan perjalanan, menarik saya untuk kembali melakukan kesibukkan saya yang berarti maupun hanya menghabiskan waktu disana. Padahal kamis kemarin keluarga datang sekedar menengok dan memastikan anak sulungnya ini tidak apa-apa, hanya saja dua hari kurang untuk saya, juga si Ibu yang katanya masih rindu dia ucapkan dipesan singkat. 

Bulat keinginan saya untuk pulang, ditambah lagi masalah yang datang dan kejenuhan ini sudaah menjadi-jadi, harapan saya sepulang dari sana, saya mendapatkan sesuatu yang berarti untuk dilakukan disini perantauan yang sepi. Banyak hal yang ingin saya lakukan sebenernya, hanya saja sudah mencoba berapa kali tetapi tetap saja sama, satu hal yang menghadang keinginan saya yaitu birokrasi dan formalitas yang katanya untuk memfilter orang-orang baru. Menurut saya untuk apa difilter, toh niat kita melakukan hal yang baik. Walaupun menghindari kerusakan dari dalam, filter saja bila sudah dilihat di lapangan, jangan menghalangi niat baik dan keinginan seseorang. Siapa yang tahu besok lusa dia akan melakukan yang sebaliknya.

Cukup muak dengan birokrasi dan formalitas tadi, masa bodo. Yang saya inginkan hanya lah pulang. Sebenarnya apa yang akan terjadi disana menjadi satu misteri, tak seperti biasanya rasa rindu ini seakan menghantui. Bukan ini menjadikan ini hyperbola, tapi saya rasa ini murni sebuah panggilan batin, yang bisa saya doakan hanya satu. Semoga tak ada hal buruk terjadi disana. Jangan sampai feeling ini adalah feeling tentang kebobrokan yang terjadi di keluarga, saudara maupun kota saya. I don’t wanna miss a thing.

Bantul, 25 Oktober 2016

Sunday, 23 October 2016

Ketimpangan

Sebenarnya apa yang saya lakukan dua bulan belakangan ini, belajar terus menerus tentang ilmu yang katanya bermanfaat untuk menjalin hubungan dengan negara lain dan terkait didalamnya. Walaupun keinginan belajar tidak seantusias keinginan saya melahap buku sosial dan sastra.

Semakin lama saya belajar semakin saya tidak tertarik, bukan karena tidak bermanfaat tapi menurut saya di Indionesia sendiri masih banyak yang harus dibenahi. Senyuman nenek tua yang di trotoar jalan Malioboro dengan pakaian kucel, kotor dan nasi kucing hasil bikinannya sendiri, yang masih penuh tanpa berkurang di keranjang seakan mencerminkan kurangnya keseimbangan yang kita (masyarakat Indonesia) dapatkan.

Muka lusuh dan senyuman kepada setiap orang seakan mendeskripsikan kesabarannya, berharap ia membeli hasil masakannya itu. Saya yakin, bukan tidak mau dia bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi pekerjaan apa yang masih sanggup ia kerjakan, sedangkan masa jaya dan semangatnya telah habis 30-40 tahun lalu, sekarang hanya kelelahan yang cepat ia rasakan.

Ketimpangan seperti itu yang membuat saya sadar mengapa Tan Malaka dan Soe Hok Gie tak pernah lelah berjuang. Berpikir kritis, mengemukakan pendapat tentang apa yang ada disekitarnya, bahkan sampai mengkritik pedas hingga turun ke jalanan menuntut kepada pemerintah saat itu.

Bagaimana kita tega, makan enak 3 kali sehari tanpa menyadari diluar sana banyak berpuasa. Bukan mengikuti ibadah agama tapi karena tidak punya sepeser uang pun untuk memenuhi kebutuhan dasar nya.

Ketertarikan saya saat ini adalah menjadi salah satu dari orang-orang yang melek akan keadaan sekitar, melakukan perubahan terhadap ketidak adilan, sedikit besar nya untuk Indonesia yang lebih baik. Saya yakin dengan kesadaran diri sendiri, akan ketidakadilan. Kita para pemuda bisa merubah Indonesia dari ketimpangan.

Perubahan
Jangan mau mulut dibungkam
Jangan rela keadilan ditenggelamkan
Ini bukan tentang keuntungan
Biarkan kita sendiri yang merasakan

Jangan mau diboneka kan zaman
Jangan mau ditikam pemerintahan
Ini bukan zaman rimba
Makan satu makan semua!!!

Bantul, 22 Oktober 2016 

Saturday, 22 October 2016

Disini Berbeda



Disini memang masih Indonesia
Yang kurang adalah keluarga untuk bercerita
Tentang pikiran kabur entah kemana

Pergi untuk mengambara
Pulang untuk nostalgia

-Gilang Haryanto-
Rindu 
22 Oktober 2016

Friday, 21 October 2016

2 Bait Kecewa

Kenapa harus berbeda
Jarak saja kita tak seberapa

-Gilang Haryanto-
Kecewa
Bantul, 21 Oktober 2016

Sunday, 16 October 2016

Semua Terlewati

Hari berganti hari...
Manusia bermetamorfosa...

Tapi hanya satu yang aku lihat
Satu titik terang
Datang dari kejauhan
Menyerang tanpa kasihan
Memperlihatkan semua kenangan

Aku tak bisa menyembunyikan nya
Ingin sekali ku menangkap nya
Ingin ku masukan kedalam toples
Menjadi penerang sebuah kegelapan

Tapi...
Tak terlihat raut senang disana
Tak terlihat untuk tinggal

Tapi...
Tak lantas aku menyerah
Tak lantas aku biarkan

Hingga aku sadar
Akhirnya aku sadar
Kau hanya lewat

-Gilang Haryanto-
Saat kecewa
Bantul, 6 Oktober 2016

Sendiri

Malam yang basah
Malam yang hening
Malam yang gelap
Sungguh kasihan

Disana terdapat seorang muda kesepian
Seakan banjir mewakili kesedihan
Hening mewakili kesendirian
Gelap mewakili ketiadaan

Tapi dia yakin...
Kala pagi akan datang
Datang cahaya yang menerangkan
Menjelaskan keberadaan

Datang cahaya yang menghangatkan
Mengeringkan luka yang dipendam
Datang cahaya yang menyilaukan
Meyakinkan kebahagiaan

-Gilang Haryanto-
Bantul, 10 Oktober 2016

Delusi

Saat kau sendirian
Berlari menyusuri nya
Mencari seorang untuk diajak berbicara
Terlihat titik terang
Kau berlari sekuat tenaga

Ternyata itu hanya kilatan
Kilatan sebuah khayalan
Percuma

-Gilang Haryanto-
Bantul, 4 Oktober 2016

Thursday, 13 October 2016

Zaman Peralihan oleh Soe Hok Gie

                Membaca buku Hok Gie ini membuat saya menyesal bukan kepalang karena baru sekarang ini saya menyadari bahwa membaca adalah hal yang menakjubkan, didalam nya kita bisa membayangkan dan merasakan apa yang kita baca. Tapi seperti kata pepatah, tiada kata terlambat untuk sesuatu yang bermanfaat. Karena itu, saya manfaatkan sisa hidup saya, masa muda saya untuk menelan buku-buku yang dulu saya nilai berat. Awalnya susah, tapi itu adalah tantangan, banyak hal yang tidak kita ketahui dan mendapat nya dari buku.
                Buku Hok Gie ini tidak lain adalah kumpulan-kumpulan tulisan lama dia yang dikumpulkan oleh Stanley dan Aris Santoso. Di dalamnya banyak sekali pelajaran yang kita ambil, tentang seorang keturunan China yang berjuang dinegara yang keadilan nya dipertanyakan (pada masa itu). Hok Gie adalah seorang yang saya cita-citakan, banyak sifat dan sikapnya yang sudah lama saya ingin terapkan tapi terhalangi oleh ketakutan. Hal yang Hok Gie punya sedangkan saya tidak adalah keberanian yang tidak kira-kira, seperti yang diceritakan di buku ini, dia seringkali bersuara mengkritik apa yang menurutnya tidak berlandaskan pada keadilan sosial secara langsung maupun lewat tulisan. Seringkali tulisan Hok Gie mewarnai sudut kecil dikoran-koran, tentang pendapatnya atau ketidakpuasan nya terhadap pemerintahan Orde Lama.
                Kurang lebihnya saya ingin seperti Hok Gie yang berani mengkritik atau menyanggah secara langsung ketika ada dosen/gurunya yang berbica tidak berdasarkan landasan kebenaran. Tapi, apa yang saya rasakan tidak lebih dari ketakutan, saya belum siap menjadi satu titik merah diantara kertas putih, walaupun saya yakin saya benar. Tapi berkat tulisan Hok Gie setidaknya keberanian saya terkumpul. Apa yang saya takutkan? Hok Gie saja yang pada masa nya diteror dari banyak pihak karena pikiran kritisnya, kritik pedas nya yang dianggap mengancam eksistensi pemerintahan Soekarno, bahkan dianggap seorang PKI tidak merasa gentar akan semua ancaman itu, walaupun taruhan nya nyawa demi keadilan dia tetap maju.
                Sekarang adalah masa nya kemajuan teknologi, jikan koran tidak bisa mencantumkan tulisan jelek saya, saya akan menulisnya di Blog. Sekarang adalah zamannya seseorang berpikir kritis, berbicara lantang saat keadilan dipertaruhkan, saat kebenaran mulai memudar. Don’t be scare if you dying, if you dying with the truth. Mulai lah berani berbicara jika menemukan ketidak adilan, ketidak benaran. Mungkin hidup kalian merasa nikmat karena terlahir dikeluarga yang berada, tapi kita adalah makhluk sosial, mulai lah merasa kan apa yang mereka rasakan, mereka yang tertindas karena korban kerakusan kaum imperialis, mulailah bertindak menuntut keadilan yang hakiki.
                Hok Gie meninggal menurut keinginannya, dia meninggal saat dunia nya membosankan, setiap hari datang keruangan nya, berpindah dari kelas ke kelas, memberikan mata kuliah di Universitas kebanggaan nya dahulu seperti perkataannya “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya seperti monyet tua dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan yang kasar dan keras untuk seminggu kira-kira. Diusap oleh angin dingin yang seperti pisau atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Dekat dan menyatu dengan alam”. Sedangkan yang dia inginkan adalah dunia yang penuh dengan kesibukan, penuh tantangan yang menimbulkan sifat keberaniannya muncul. Dia sangat menyukai puisi salah satu filsuf Yunani.

Cita-cita Mati Muda
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan
Yang tersial adalah umur tua
Rasa-rasanya memang begitu
Berbahagialah mereka yang mati muda
                
                Seakan itu adalah bocoran akan kematiannya, selain itu Hok Gie juga meninggal di Gunung Semeru, Hok Gie sangat mencintai hobi nya seperti yang pernah dia ucapkan “Hanya dipuncak gunung saya merasa bersih”. Dan sebelum ia memulai pendakiannya pada tanggal 16 Desember 1969 (sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27) ia menulis catatan dalam buku hariannya, “Saya punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian”. Atau perkataannya “Orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur.”
                Hok Gie telah tiada, sayang dia tidak melihat berbagai keburukan dan kebusukan pemerintahan Orde Baru, mungkin dia akan menantang dengan keras tentang pembatasan berbicara pada masa itu. Atau dia akan menangis tersedu-sedu saat melihat banyaknya pemimpin yang korup dizaman sekarang yang (katanya) akan dihukum mati bila terbukti tapi tidak jadi-jadi. Namun, semangatnya akan keadilan, anti-imperialis, pencinta kebenaran tak akan berhenti. Saatnya kita, sebagai masyarakat muda yang meneruskan perjuangannya.

Monday, 26 September 2016

Tanjung Harapan

Terimakasih kau, tanjung penuh harapan
Terimakasih kau, tanjung tempat pemberhentian
Bukan aku mau pergi, kau yang suruh ku berlari
Bukan aku tak betah, kau yang mungkin sudah lelah

Terimakasih kau, tanjung yang sekarang datang kembali
Membuat susah hidup ini, memilih diam atau berlari...

-Gilang Haryanto-
Bantul, 26 September 2016

Sunday, 25 September 2016

Beo

Kadang, aku tertawa mendengar beo diujung jalan sana
Dia berbicara tergantung apa yang didengar nya

Runtuh, runtuh lah sudah pondasi hidup nya
Malu, malu tak bisa berkata tetap dijalur nya

Kuatkan lah kawan... Kuatkan lah pondasi kalian
Jangan sampai mereka merubah pendirian yang sudah kau bangun pada asalnya

-Gilang Haryanto-
Bantul, 25 September 2016

Saturday, 24 September 2016

Bukan Mawar

Aku... Tidak butuh Mawar indah yang habis dimakan waktu
Aku... Hanya ingin Edelweis biasa yang tak pernah hilang

-Gilang Haryanto-
Bantul, 24 September 2016

Friday, 23 September 2016

Percaya

Sampai saat ini belum ku temukan apa itu kepercayaan, bukan terhadap tuhan tapi lebih ke cangkupan sosial. Ya, terlalu sering mendapat cambukan membuat aku sendiri merasa bahwa orang-orang tidak pantas mendapat kepercayaan. Bagaimana bisa orang membalas dengan tusukan, sedangkan kemarin aku berikannya uluran tangan.

Hari ini, aku belajar tak perlu lah berpikir tentang orang, apa yang kita dapatkan adalah pelajaran. Boleh kita mewarnai merah, tapi jangan menolak emas yang diberikan. Setiap orang punya setidaknya satu pelajaran yang dapat kita ambil. Bagaimana negatifnya? Biarkan saja lah. Jangan terlalu sibuk sampai melupakan apa yang harus kita lakukan, jangan pula bersikap tertutup dengan apa yang ia ajarkan.


Jangan pernah cukup untuk sesuatu yang dirasa positif. Lantas, apakah itu artinya kita bisa percaya terhadap orang lain? Mungkin saja, tapi maaf, itu tidak bisa merubah mindset ku. Berikan apa yang kamu bisa ajarkan, biar aku membalas lebih dari itu.

Kau Harus Tau

Aku... Seharusnya lebih tahu
Kau... Seharusnya juga tahu
Bernegara itu, untuk kita lebih maju
Bukan malah membuat orang kecil bersedih pilu

Jangan kan untuk berpoya-poya
Untuk makan pun mereka tidak tahu

Bekerja keras... Hanya menghasilkan ocehan
Bermalas-malasan... Hanya menghasilkan sindiran

Kemana kah kau, orang bijak yang katanya punya solusi
Untuk kami, rakyat kecil, pekerja keras hanya untuk nasi

-Gilang Haryanto-
Bantul, 23 September 2016

Yakin Merdeka?

Bagaimana mendapat kedamaian
Jika merdeka pun kau digerakan

-Gilang Haryanto-
Bantul, 23 September 2016

Wednesday, 21 September 2016

Keadilan?

Berdirilah nan gagah kawan.
Jika kau merasa ditengah ketidakadilan.

-Gilang Haryanto-
Bantul, 21 September 2016

Tegar

Lihatlah walau diserang gelap.
Tegarlah walau dihujan beban.

-Gilang Haryanto-
Bantul, 21 September 2016

Kadang Aku

Kadang aku rindu lautan manis ungkapan kebahagiaan mu
Kadang aku rindu lekukan manis merah bibirmu
Kadang aku lupa... Aku, siapa?

-Gilang Haryanto-
Bantul, 21 September 2016

Tuesday, 1 March 2016

Arti Kehilangan Sesungguhnya


Selama ini aku terlalu berlebihan menanggapi apa itu sebuah kehilangan. kehilangan yang sebenarnya terjadi didepanku, menimpa sahabat dekatku.

Ayuni dengan tegar menyadari bahwa baru saja dia kehilangan ibunya. Ibu yang telah mendidiknya, menjaganya dari kecil hingga bisa seperti sekarang, dia kuat sumpah. Entahlah aku jika diposisi itu.

Bersyukurlah aku, kehilangan yang menimpaku kemarin, yang aku tanggapi dengan sangat berlebihan tidak ada apa apanya dibanding dia. Seseorang bisa terganti seiring waktu yang bejalan. Kenangan dan bayangan... ya bisa saja ada yang lebih indah.

Life must go on, memang benar, dia saja bisa tegar.
Dan alhamdulillah, dari dulu hal seperti ini meninggalkan hikmah yang luar biasa ga bisa dibeli dengan materi, sakit dan stress dipikiran diganti dengan pelajaran yang sangat bernilai, juga kebahagiaan tandingan.

Akhirnya, aku siap, aku temukan peti harta, aku temukan apa yang membuatku nyaman, aku temukan apa yang bisa membuatku lupa apa itu keterpurukan... Kalo sampai waktunya aku kasih tau kamu, tenang aja. Kamu bahagia aja dulu dijalan kamu, semua ada waktunya.

Wednesday, 17 February 2016

Every Sadness Have More Happiness

Alhamdulillah, tak ada skenario yang lebih indah dari skenario mu. Kini aku sadar, disetiap pelajaran yang menyakitkan Allah selalu menyimpan beribu-ribu kali kebahagiaan. Selalu ingat, apa yang Allah berikan kepadamu adalah yang terbaik dari pilihanmu sendiri. Bersyukurlah.

Tuesday, 9 February 2016

Memberi Arti Pada Waktu

Semuanya berawal saat kunjunganku ke perpustakaan sekolah dan dengan tidak sengaja menemukan buku dengan keadaan menghawatirkan. Terlintas pikiran bahwa kondisi seperti itu didapat karena sebelumnya telah banyak yang membaca, dan ternyata benar saja. Dunia Sophie atau Sophie's World tulisan asli Jostein Gaarder yang terbit tahun 1991 dalam bahasa Norwegia dengan judul Sofie's Verden telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia.

Ditambah lagi aku yang belakangan ini ditempa berbagai ujian kehidupan, terbesit dipikiran untuk mengisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Novel filsafat Dunia Sophie dan Novel sastra Ayah karya Andrea Hirata yang justru bertolak belakang memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga daripada harga buku itu sendiri. Tujuanku bukan untuk mengisi halaman blog yang kosong, tetapi memberi arti pada waktu.

Sebagaimana bangsa Yahudi, hidup bukanlah tentang dilahirkan dan mati, bagi mereka akan menjadi sangat rugi apabila waktu luang dibuang begitu saja, satu detik yang terlewat tidak akan bisa diulang kembali. Satu detik yang akan datang tidak akan sama seperti satu detik sebelumnya. Bukannya menjunjung tinggi suatu ras, tetapi sudah seharusnya mencontoh sisi positif dari setiap manusia.

Hidup adalah sebuah perjalanan yang tujuannya memberikan pengalaman dan pelajaran dalam sebuah karya walaupun tidak akan seindah ahlinya, menurutku. Pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan akan berharga bila dibagikan kepada orang lain dengan tujuan pelajaran.

Jangan sia-siakan waktu mu yang berharga.

Monday, 8 February 2016

You'll Never Feel The Happiness If You Haven't Feel The Pain.

Terbesit pikiran untuk mengisi liburan dihari raya Imlek, imlek ditahun ber-shio seperti sieta. "Nonton" menjadi ketertarikan awal yang akhirnya membuahkan pikiran jernih bahwa ada hal yang lebih "edandah".

Akhirnya, diajaklah aku ke kota bekas kerajaan Sumedang Larang... tidak perlu pikir panjang karena dirasa akan lebih mengasyikan dibanding menghabiskan waktu diruangan setengah kulkas. Tidak sedikit juga yang minta ikut, walaupun juga minta tumpangan.
Menjadi-jadilah pasar bayangan dikepala, membayangkan keasyikan yang tercipta akan sangat luar biasa karena ramai-ramai menjajah kota orang... menjajah keindahannya.

Setelah diputuskan untuk memulai perjalanan, datanglah satu persatu hambatan. Salah satunya hujan, walaupun dianggap keberuntungan oleh umat yang merayakan Imlek tapi cukup membuat pengaruh terhadap kelancaran perjalanan, karena aku memakai kuda besi... walaupun plastik menjadi dominasi.

Sampai ditempat yang dituju, Kampung Toga. Suatu kampung yang justru menjadi misteri mengapa disebut "kampung". Ah entahlah aku tak peduli.
Yang penting kita dibuat menganga karenanya, keindahan alam yang Allah ciptakan jauh lebih indah dari lukisan-lukisan seorang maestro kelas dunia yang dilelang dengan harga diri serta harga mati. Kenangan ini, diabadikan melalui jepretan gambar, walaupun aku sadar sebuah kenangan justru bertempat dipikiran.

Saat dirasa cukup, atau lebih tepatnya dicukup-cukupi. Pulanglah kita ke kota kecil yang dipenuhi tumpukan masalah. Berharap perjalanan pulang akan lebih mulus karena lelahnya kita, ternyata sama saja. Kamu jalan penuh dusta, egois, tidak berubah walaupun diharapkan.

Tapi setelah semua hambatan dilalui, justru itu menjadi topik mengasyikan, menghibur kita yang kurang hiburan. Dari sanalah aku belajar.

Aku tidak akan terlalu terpaku kepada tujuan. Walaupun aku tahu itu penting, tapi aku lebih tahu bahwa perjalanan untuk mencapai suatu tujuan bahkan lebih memiliki pelajaran yang tidak bisa digantikan.

Belajarlah menghargai suatu proses, dan bersyukurlah selalu datang kebahagiaan setelah kepedihan memporak-poranda.

Sunday, 7 February 2016

Morning Glory

Gelap sudah pergi, datanglah cahaya... Burung pipit memanggil bernyanyi, seakan memberi tahu ini sudah pagi. Matahari tetap hangat tidak berubah menjadi dingin walaupun banyak yang terjadi padanya. Biarlah kamu...

Namanya pagi, setiap orang menyambut dengan sukacita. Baiknya jangan banyak meminta bersyukur lah saja dulu, mungkin pagi besok tidak terang lagi.

Bahagialah aku, dengan makanan serba hijau dengan hati penuh ketenangan, Hoppipolla dari Sigur Ros yang membuatnya. Sempat terpikir bahwa Yellow punya si Coldplay yang bisa menghipnotis sepertinya syahdu, tapi baru ingat aku tak suka Coldplay... Terlalu palsu.

Bersyukurlah kita dengan yang dia berikan, karena cuma dia yang bisa. Jika kamu bisa lakukan saja, kalo aku cukup disini menikmati.

Saturday, 6 February 2016

Treasure of Happiness

Saat tengah malam, setelah habis mencuci otak dengan kebahagiaaan yang terselip dikampung kumuh di Subang, akhirnya sampai digubuk tempat paling nyaman sedunia, rumahku yang dingin kaya dia.

Ada saja kebahagiaan dibalik oleh-oleh bro Rivana dari Bali. Bukan oleh-olehnya yang sangat aku syukuri. Tapi karena masih bisa bertemu dengan saudaraku yang akhirnya sampai tadi siang setelah habis merantau ke negeri setengah Indonesia, terselip obrolan hangat malam ini. Maaf kan aku yang lupa apa artinya kebahagiaan. Terimakasih ya Allah, sebenarnya kita tidak perlu bersusah payah mencari.

Forum tengah malam ini, bro Azmil dan bro Rivana punya punch up yang sumpah tidak bisa untuk menahan menertawakan. Selain itu, mereka juga bah buku otobiografi tokoh berpengaruh dunia, ada saja pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran. Mungkin aku menang karena berangkat di Sacred Journey kemarin ke Menganti tapi bro Rivana menang karena sudah kenal saudara jauh di Bali sana. Dan bro Azmil, aku kalah oleh semangat persaudaraannya, beneran.

Bersyukurlah khalayak ramai.


Friday, 5 February 2016

Refresh

Kadang kerja keras dan niat baik tidak selalu dibalas dengan akhir bahagia, aku saksinya.

Memang perjalanan masih panjang bu dokter, tapi cukup membuat pusing 320 keliling itu pun putar balik 2 kali. Terimakasih, kabar baiknya aku jadi ingat bahwa setiap ujian ada hikmahnya.

Terbayang Lembang atau Bogor tapi Ciasem Subang asik juga, dengan kesederhanannya. Bukan sengaja, tadinya mau bolos sekolah, hoream. Tapi sesosok ibu memberi tumpangan ikut ke Subang daripada dirumah sendirian padahal aku ga akan macem macem, sumpah.

Alhamdulillah, maha besar Allah yang memberikan pelajaran dan

Wednesday, 27 January 2016

History of Majalengka


Maja Kabupaten (1842) (Source Hinderstein)
Kabupaten Majalengka sebelumnya bernama Kabupaten Maja. Menurut bukti sejarah, Kabupaten Maja (Sekarang Kabupaten Majalengka) baru ada pada tahun 1819. Perubahan Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka 1840 sekaligus pula mengukuhkan keyakinan tidak ada perubahan nama Kerajaan Sindangkasih menjadi Kerajaan Majalengka (zaman Pangeran Muhammad). Juga bahwa kota Majalengka baru ada sejak ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan dari Maja (Kecamatan Maja) ke bagian wilayah Sindangkasih (Sekarang wilayah Kota Majalengka) serempak dengan pergantian nama menjadi Kabupaten Majalengka.
               
Nama Majalengka berasal dari nama kuno (sinonim) untuk menyebut “Maja Pahit” atau “Maja Langu”.
Maja berasal dari buah Maja. Lengka berasal dari kata Lengkit (leng atau langu). Nama diambil dari buah Maja karena sejak zaman kerajaan dulu, buah maja ini menjadi “ciri khas” daerah kerajaan Sindangkasih (sekarang Kabupaten Majalengka). Buah Maja yang pahit ini atau yang kita kenal dengan nama berenuk (Crescentia cujete) tidak bisa dimakan tetapi dapat diolah menjadi obat malaria.

Keberadaan Kabupaten Maja yang ibukotanya di Maja (sekarang Kecamatan Majalengka) tidak banyak meninggalkan bukti peninggalan sejarah, selain peta dan foto. Kepercayaan adanya peradan saat Kecamatan Maja pernah menjadi Ibukota Kabupaten terlihat dalam foto dibawah, 


Alun-alun Kabupaten Madja (1819-1840) difoto dari depan Kantor Kabupaten.
Didalam foto jelas Nampak bukti visual adanya Gunung Bongkok atau Gunung Sela (terkenal gunung Kuda).


Source: Pa Tatang UNY