Majalengka masih tetap memiliki daya tarik. Bahkan kali ini lebih gila. Rasa ini yang membuat saya selalu ingin pulang. Bertemu dengan kawan kawan seperjuangan, satu persatu haru demi haru terasa.
Kopi, seperti biasanya menjadi penghubung topik kita, terlihat jelas perubahan pemikiran menjadi lebih maju dari mereka, itu yang saya harapkan.
Waktu, sedikit demi sedikit kita habiskan sudah, sembari menunggu yang lain datang. Malam itu semua berkumpul, riang tanpa haru seakan mengisi keheningan malam syahdu. Ibu Sri, Luthfi, Wanda, Ritza, dan Robi yang pertama saya temui hingga malamnya berangkat lah kita ke ketinggian yang selalu menjadi ketenangan abadi. Tempat ini agak berubah kecuali dingin dan nyamannya yang membuat kita seakan ingin tetap tinggal disini. Malam itu diisi dengan diskusi, keingintahuan dan bercandaan.
Habis waktu ini, esok harinya saya isi dengan kopi lagi, ditempat biasa kami kumpul kumpul,walau sesekali saya tinggal untuk berburu buku. Petangnya, datanglah rombongan hujan hujanan; Deva, Alwin, Isa, Dama juga David datang seakan melengkapi. Sapaan hangat ditengah dinginnya suasana hujan ini yang lantas saya sangat rindukan. Malam semakin panjang, gelap semakin larut mereka pamit untuk sekedar ganti pakaian. Saya yang kian semangat untuk mengenang sesuatu yang hilang sendirian, tak lama Zaky dan Doni datang mengagetkan, banyak perubahan terjadi pada mereka, oh Bandung jago lah kamu membuat mereka lebih maju.
Hingga tengah malam, datang lagi Viar dan Bimi meramaikan kehangatan. Selalu saja begitu, mereka adalah hal yang sulit digambarkan. Malamnya kita putuskan melanjutkan obrolan di Indomaret Babakan Jawa, biasa. Hingga paginya kita berdiskusi. Bercerita ringan apa yang kita temukan diperantauan...
Majalengka, 27,28,29 Oktober 2016
No comments:
Post a Comment