Membaca buku Hok Gie ini membuat saya menyesal bukan
kepalang karena baru sekarang ini saya menyadari bahwa membaca adalah hal yang
menakjubkan, didalam nya kita bisa membayangkan dan merasakan apa yang kita
baca. Tapi seperti kata pepatah, tiada kata terlambat untuk sesuatu yang
bermanfaat. Karena itu, saya manfaatkan sisa hidup saya, masa muda saya untuk
menelan buku-buku yang dulu saya nilai berat. Awalnya susah, tapi itu adalah
tantangan, banyak hal yang tidak kita ketahui dan mendapat nya dari buku.
Buku
Hok Gie ini tidak lain adalah kumpulan-kumpulan tulisan lama dia yang
dikumpulkan oleh Stanley dan Aris Santoso. Di dalamnya banyak sekali pelajaran
yang kita ambil, tentang seorang keturunan China yang berjuang dinegara yang
keadilan nya dipertanyakan (pada masa itu). Hok Gie adalah seorang yang saya
cita-citakan, banyak sifat dan sikapnya yang sudah lama saya ingin terapkan
tapi terhalangi oleh ketakutan. Hal yang Hok Gie punya sedangkan saya tidak
adalah keberanian yang tidak kira-kira, seperti yang diceritakan di buku ini,
dia seringkali bersuara mengkritik apa yang menurutnya tidak berlandaskan pada
keadilan sosial secara langsung maupun lewat tulisan. Seringkali tulisan Hok
Gie mewarnai sudut kecil dikoran-koran, tentang pendapatnya atau ketidakpuasan nya
terhadap pemerintahan Orde Lama.
Kurang
lebihnya saya ingin seperti Hok Gie yang berani mengkritik atau menyanggah
secara langsung ketika ada dosen/gurunya yang berbica tidak berdasarkan
landasan kebenaran. Tapi, apa yang saya rasakan tidak lebih dari ketakutan,
saya belum siap menjadi satu titik merah diantara kertas putih, walaupun saya
yakin saya benar. Tapi berkat tulisan Hok Gie setidaknya keberanian saya
terkumpul. Apa yang saya takutkan? Hok Gie saja yang pada masa nya diteror dari
banyak pihak karena pikiran kritisnya, kritik pedas nya yang dianggap mengancam
eksistensi pemerintahan Soekarno, bahkan dianggap seorang PKI tidak merasa
gentar akan semua ancaman itu, walaupun taruhan nya nyawa demi keadilan dia
tetap maju.
Sekarang
adalah masa nya kemajuan teknologi, jikan koran tidak bisa mencantumkan tulisan
jelek saya, saya akan menulisnya di Blog. Sekarang adalah zamannya seseorang
berpikir kritis, berbicara lantang saat keadilan dipertaruhkan, saat kebenaran
mulai memudar. Don’t be scare if you dying, if you dying with the truth. Mulai
lah berani berbicara jika menemukan ketidak adilan, ketidak benaran. Mungkin
hidup kalian merasa nikmat karena terlahir dikeluarga yang berada, tapi kita
adalah makhluk sosial, mulai lah merasa kan apa yang mereka rasakan, mereka
yang tertindas karena korban kerakusan kaum imperialis, mulailah bertindak
menuntut keadilan yang hakiki.
Hok Gie
meninggal menurut keinginannya, dia meninggal saat dunia nya membosankan,
setiap hari datang keruangan nya, berpindah dari kelas ke kelas, memberikan mata
kuliah di Universitas kebanggaan nya dahulu seperti perkataannya “Kehidupan
sekarang benar-benar membosankan saya. Saya seperti monyet tua dikurung di
kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan yang
kasar dan keras untuk seminggu kira-kira. Diusap oleh angin dingin yang seperti
pisau atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Dekat dan menyatu
dengan alam”. Sedangkan yang dia inginkan adalah dunia yang penuh dengan
kesibukan, penuh tantangan yang menimbulkan sifat keberaniannya muncul. Dia
sangat menyukai puisi salah satu filsuf Yunani.
Cita-cita Mati Muda
Cita-cita Mati Muda
Nasib terbaik adalah
tidak dilahirkan
Yang kedua dilahirkan
tapi mati muda, dan
Yang tersial adalah
umur tua
Rasa-rasanya memang
begitu
Berbahagialah mereka
yang mati muda
Seakan
itu adalah bocoran akan kematiannya, selain itu Hok Gie juga meninggal di
Gunung Semeru, Hok Gie sangat mencintai hobi nya seperti yang pernah dia
ucapkan “Hanya dipuncak gunung saya merasa bersih”. Dan sebelum ia memulai
pendakiannya pada tanggal 16 Desember 1969 (sehari sebelum ulang tahunnya yang
ke-27) ia menulis catatan dalam buku hariannya, “Saya punya perasaan untuk
selalu ingat pada kematian”. Atau perkataannya “Orang-orang seperti kita tidak
pantas mati di tempat tidur.”
Hok Gie
telah tiada, sayang dia tidak melihat berbagai keburukan dan kebusukan
pemerintahan Orde Baru, mungkin dia akan menantang dengan keras tentang
pembatasan berbicara pada masa itu. Atau dia akan menangis tersedu-sedu saat
melihat banyaknya pemimpin yang korup dizaman sekarang yang (katanya) akan
dihukum mati bila terbukti tapi tidak jadi-jadi. Namun, semangatnya akan
keadilan, anti-imperialis, pencinta kebenaran tak akan berhenti. Saatnya kita,
sebagai masyarakat muda yang meneruskan perjuangannya.
No comments:
Post a Comment