Thursday, 13 October 2016

Zaman Peralihan oleh Soe Hok Gie

                Membaca buku Hok Gie ini membuat saya menyesal bukan kepalang karena baru sekarang ini saya menyadari bahwa membaca adalah hal yang menakjubkan, didalam nya kita bisa membayangkan dan merasakan apa yang kita baca. Tapi seperti kata pepatah, tiada kata terlambat untuk sesuatu yang bermanfaat. Karena itu, saya manfaatkan sisa hidup saya, masa muda saya untuk menelan buku-buku yang dulu saya nilai berat. Awalnya susah, tapi itu adalah tantangan, banyak hal yang tidak kita ketahui dan mendapat nya dari buku.
                Buku Hok Gie ini tidak lain adalah kumpulan-kumpulan tulisan lama dia yang dikumpulkan oleh Stanley dan Aris Santoso. Di dalamnya banyak sekali pelajaran yang kita ambil, tentang seorang keturunan China yang berjuang dinegara yang keadilan nya dipertanyakan (pada masa itu). Hok Gie adalah seorang yang saya cita-citakan, banyak sifat dan sikapnya yang sudah lama saya ingin terapkan tapi terhalangi oleh ketakutan. Hal yang Hok Gie punya sedangkan saya tidak adalah keberanian yang tidak kira-kira, seperti yang diceritakan di buku ini, dia seringkali bersuara mengkritik apa yang menurutnya tidak berlandaskan pada keadilan sosial secara langsung maupun lewat tulisan. Seringkali tulisan Hok Gie mewarnai sudut kecil dikoran-koran, tentang pendapatnya atau ketidakpuasan nya terhadap pemerintahan Orde Lama.
                Kurang lebihnya saya ingin seperti Hok Gie yang berani mengkritik atau menyanggah secara langsung ketika ada dosen/gurunya yang berbica tidak berdasarkan landasan kebenaran. Tapi, apa yang saya rasakan tidak lebih dari ketakutan, saya belum siap menjadi satu titik merah diantara kertas putih, walaupun saya yakin saya benar. Tapi berkat tulisan Hok Gie setidaknya keberanian saya terkumpul. Apa yang saya takutkan? Hok Gie saja yang pada masa nya diteror dari banyak pihak karena pikiran kritisnya, kritik pedas nya yang dianggap mengancam eksistensi pemerintahan Soekarno, bahkan dianggap seorang PKI tidak merasa gentar akan semua ancaman itu, walaupun taruhan nya nyawa demi keadilan dia tetap maju.
                Sekarang adalah masa nya kemajuan teknologi, jikan koran tidak bisa mencantumkan tulisan jelek saya, saya akan menulisnya di Blog. Sekarang adalah zamannya seseorang berpikir kritis, berbicara lantang saat keadilan dipertaruhkan, saat kebenaran mulai memudar. Don’t be scare if you dying, if you dying with the truth. Mulai lah berani berbicara jika menemukan ketidak adilan, ketidak benaran. Mungkin hidup kalian merasa nikmat karena terlahir dikeluarga yang berada, tapi kita adalah makhluk sosial, mulai lah merasa kan apa yang mereka rasakan, mereka yang tertindas karena korban kerakusan kaum imperialis, mulailah bertindak menuntut keadilan yang hakiki.
                Hok Gie meninggal menurut keinginannya, dia meninggal saat dunia nya membosankan, setiap hari datang keruangan nya, berpindah dari kelas ke kelas, memberikan mata kuliah di Universitas kebanggaan nya dahulu seperti perkataannya “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya seperti monyet tua dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan yang kasar dan keras untuk seminggu kira-kira. Diusap oleh angin dingin yang seperti pisau atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Dekat dan menyatu dengan alam”. Sedangkan yang dia inginkan adalah dunia yang penuh dengan kesibukan, penuh tantangan yang menimbulkan sifat keberaniannya muncul. Dia sangat menyukai puisi salah satu filsuf Yunani.

Cita-cita Mati Muda
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan
Yang tersial adalah umur tua
Rasa-rasanya memang begitu
Berbahagialah mereka yang mati muda
                
                Seakan itu adalah bocoran akan kematiannya, selain itu Hok Gie juga meninggal di Gunung Semeru, Hok Gie sangat mencintai hobi nya seperti yang pernah dia ucapkan “Hanya dipuncak gunung saya merasa bersih”. Dan sebelum ia memulai pendakiannya pada tanggal 16 Desember 1969 (sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27) ia menulis catatan dalam buku hariannya, “Saya punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian”. Atau perkataannya “Orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur.”
                Hok Gie telah tiada, sayang dia tidak melihat berbagai keburukan dan kebusukan pemerintahan Orde Baru, mungkin dia akan menantang dengan keras tentang pembatasan berbicara pada masa itu. Atau dia akan menangis tersedu-sedu saat melihat banyaknya pemimpin yang korup dizaman sekarang yang (katanya) akan dihukum mati bila terbukti tapi tidak jadi-jadi. Namun, semangatnya akan keadilan, anti-imperialis, pencinta kebenaran tak akan berhenti. Saatnya kita, sebagai masyarakat muda yang meneruskan perjuangannya.

No comments: