Memang, tak ada yang lebih indah daripada pertemuan.
Sesampainya distasiun saya disambut oleh seorang teman yang dulu, waktu kita masih SMA berjuang bersama. Terimakasih ya Allah telah memberikan kenikmatan berupa hangatnya pertemanan. Yang ada saat kita membutuhkan, yang senantiasa mendukung saat kita dijatuhkan.
Cirebon malam tidak seperti Jogja, maupun Bantul, disini sepi. Tidak banyak yang berubah sejak saya terakhir kesini. Tapi dari sini hanya satu jam untuk "pulang". Kadang iri rasanya, teman yang kuliah disini bisa pulang jika ia merasa rindu, kapanpun ia mau.
Tapi saya, jarak saja membentang. Bisa Pulang pun merelakan waktu dan uang.
Ini bukan tentang kuat atau tidak, masalah rindu tidak bisa disembunyikan, apalagi kepada orangtua.
Satu Langkah Lagi
Tidak sabar rasanya menyambut pagi
Tidak sabar rasanya pulang kembali
Matahari bersinar mengantarkan kepulangan
Membawa raga menebus kerinduan
-Gilang Haryanto-
Majalengka i'll coming
Cirebon, 27 Oktober 2016
Thursday, 27 October 2016
This Is My Time
Pertama kali dalam sejarah hidup saya merasakan kendaraan sejuta umat ini. Ada pun yang saya rasakan adalah kenyamanan, jauh dari yang pernah saya dengar. Katanya dahulu, seringnya penumpang merasa tidak nyaman karena ketidakteraturan didalam gerbong. Katanya dahulu, orang membawa tikar, bantal dan lain-lain kedalam gerbong. Sehingga, susahnya penumpang lain untuk lewat keluar ataupun sekedar untuk ke kamar kecil. Tapi semuanya berubah, cukup cepat. Dalam hal ini perusahaan negara mendapat nilai plus dari saya.
Banyak yang saya pelajari disini, dewasanya kita harus lebih peka melihat keadaan sekitar. Saya belajar bersabar dikala menunggu kereta yang akan saya tumpangi datang. Kereta yang akan membawa saya pulang. Keadaan sekitar banyak mengandung makna yang terselubung.
Keinginan pulang ini, tidak bosan-bosan saya utarakan. menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Saya merasakan keinginan kali ini ada sebab nya, memang karena rindu ini menggebuk-gebuk. Tapi saya pikir ada hal lain yang sampai-sampainya menarik keinginan ini begitu kuat.
Meskipun akan terjadi sesuatu, masa bodo. Yang penting untuk sekarang saya dalam perjalanan pulang, yang dengan cepat atau lambat akan tahu jawaban dari semua ini.
Perjalanan yang nikmat, ditemani sentuhan musik klasik The Beatles, dan oleh Sore yang seakan tak ingin kalah walaupun menempuh jalur indie. Tak ketinggalan pula ditemani buah tulisan Soe Hok Gie si kritis.
"Rumah", sebentar lagi saya datang.
18.36
Gajahwong 13D, 26 Oktober 2016
Banyak yang saya pelajari disini, dewasanya kita harus lebih peka melihat keadaan sekitar. Saya belajar bersabar dikala menunggu kereta yang akan saya tumpangi datang. Kereta yang akan membawa saya pulang. Keadaan sekitar banyak mengandung makna yang terselubung.
Keinginan pulang ini, tidak bosan-bosan saya utarakan. menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Saya merasakan keinginan kali ini ada sebab nya, memang karena rindu ini menggebuk-gebuk. Tapi saya pikir ada hal lain yang sampai-sampainya menarik keinginan ini begitu kuat.
Meskipun akan terjadi sesuatu, masa bodo. Yang penting untuk sekarang saya dalam perjalanan pulang, yang dengan cepat atau lambat akan tahu jawaban dari semua ini.
Perjalanan yang nikmat, ditemani sentuhan musik klasik The Beatles, dan oleh Sore yang seakan tak ingin kalah walaupun menempuh jalur indie. Tak ketinggalan pula ditemani buah tulisan Soe Hok Gie si kritis.
"Rumah", sebentar lagi saya datang.
18.36
Gajahwong 13D, 26 Oktober 2016
Tuesday, 25 October 2016
Rindu Untuk Pulang
Terlalu cepat rindu ini
datang, seakan apa yang saya lakukan hanya untuk mengisi waktu yang luang. Yang
saya rasakan hanya kejenuhan yang datang bertubi-tubi, hal yang terpikir hanya
lah pulang. Ya, pulang seakan ada yang tertinggal dikota kecil sana yang penuh
dengan tulisan-tulisan perjalanan, menarik saya untuk kembali melakukan
kesibukkan saya yang berarti maupun hanya menghabiskan waktu disana. Padahal
kamis kemarin keluarga datang sekedar menengok dan memastikan anak sulungnya
ini tidak apa-apa, hanya saja dua hari kurang untuk saya, juga si Ibu yang katanya
masih rindu dia ucapkan dipesan singkat.
Bulat keinginan saya
untuk pulang, ditambah lagi masalah yang datang dan kejenuhan ini sudaah
menjadi-jadi, harapan saya sepulang dari sana, saya mendapatkan sesuatu yang
berarti untuk dilakukan disini perantauan yang sepi. Banyak hal yang ingin saya
lakukan sebenernya, hanya saja sudah mencoba berapa kali tetapi tetap saja
sama, satu hal yang menghadang keinginan saya yaitu birokrasi dan formalitas yang
katanya untuk memfilter orang-orang baru. Menurut saya untuk apa difilter, toh
niat kita melakukan hal yang baik. Walaupun menghindari kerusakan dari dalam,
filter saja bila sudah dilihat di lapangan, jangan menghalangi niat baik dan
keinginan seseorang. Siapa yang tahu besok lusa dia akan melakukan yang
sebaliknya.
Cukup muak dengan
birokrasi dan formalitas tadi, masa bodo. Yang saya inginkan hanya lah pulang.
Sebenarnya apa yang akan terjadi disana menjadi satu misteri, tak seperti
biasanya rasa rindu ini seakan menghantui. Bukan ini menjadikan ini hyperbola,
tapi saya rasa ini murni sebuah panggilan batin, yang bisa saya doakan hanya
satu. Semoga tak ada hal buruk terjadi disana. Jangan sampai feeling ini adalah
feeling tentang kebobrokan yang terjadi di keluarga, saudara maupun kota saya.
I don’t wanna miss a thing.
Bantul, 25 Oktober 2016
Sunday, 23 October 2016
Ketimpangan
Sebenarnya apa yang saya lakukan dua bulan belakangan ini, belajar terus menerus tentang ilmu yang katanya bermanfaat untuk menjalin hubungan dengan negara lain dan terkait didalamnya. Walaupun keinginan belajar tidak seantusias keinginan saya melahap buku sosial dan sastra.
Semakin lama saya belajar semakin saya tidak tertarik, bukan karena tidak bermanfaat tapi menurut saya di Indionesia sendiri masih banyak yang harus dibenahi. Senyuman nenek tua yang di trotoar jalan Malioboro dengan pakaian kucel, kotor dan nasi kucing hasil bikinannya sendiri, yang masih penuh tanpa berkurang di keranjang seakan mencerminkan kurangnya keseimbangan yang kita (masyarakat Indonesia) dapatkan.
Muka lusuh dan senyuman kepada setiap orang seakan mendeskripsikan kesabarannya, berharap ia membeli hasil masakannya itu. Saya yakin, bukan tidak mau dia bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi pekerjaan apa yang masih sanggup ia kerjakan, sedangkan masa jaya dan semangatnya telah habis 30-40 tahun lalu, sekarang hanya kelelahan yang cepat ia rasakan.
Ketimpangan seperti itu yang membuat saya sadar mengapa Tan Malaka dan Soe Hok Gie tak pernah lelah berjuang. Berpikir kritis, mengemukakan pendapat tentang apa yang ada disekitarnya, bahkan sampai mengkritik pedas hingga turun ke jalanan menuntut kepada pemerintah saat itu.
Bagaimana kita tega, makan enak 3 kali sehari tanpa menyadari diluar sana banyak berpuasa. Bukan mengikuti ibadah agama tapi karena tidak punya sepeser uang pun untuk memenuhi kebutuhan dasar nya.
Ketertarikan saya saat ini adalah menjadi salah satu dari orang-orang yang melek akan keadaan sekitar, melakukan perubahan terhadap ketidak adilan, sedikit besar nya untuk Indonesia yang lebih baik. Saya yakin dengan kesadaran diri sendiri, akan ketidakadilan. Kita para pemuda bisa merubah Indonesia dari ketimpangan.
Perubahan
Jangan mau mulut dibungkam
Jangan rela keadilan ditenggelamkan
Ini bukan tentang keuntungan
Biarkan kita sendiri yang merasakan
Jangan mau diboneka kan zaman
Jangan mau ditikam pemerintahan
Ini bukan zaman rimba
Makan satu makan semua!!!
Bantul, 22 Oktober 2016
Semakin lama saya belajar semakin saya tidak tertarik, bukan karena tidak bermanfaat tapi menurut saya di Indionesia sendiri masih banyak yang harus dibenahi. Senyuman nenek tua yang di trotoar jalan Malioboro dengan pakaian kucel, kotor dan nasi kucing hasil bikinannya sendiri, yang masih penuh tanpa berkurang di keranjang seakan mencerminkan kurangnya keseimbangan yang kita (masyarakat Indonesia) dapatkan.
Muka lusuh dan senyuman kepada setiap orang seakan mendeskripsikan kesabarannya, berharap ia membeli hasil masakannya itu. Saya yakin, bukan tidak mau dia bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi pekerjaan apa yang masih sanggup ia kerjakan, sedangkan masa jaya dan semangatnya telah habis 30-40 tahun lalu, sekarang hanya kelelahan yang cepat ia rasakan.
Ketimpangan seperti itu yang membuat saya sadar mengapa Tan Malaka dan Soe Hok Gie tak pernah lelah berjuang. Berpikir kritis, mengemukakan pendapat tentang apa yang ada disekitarnya, bahkan sampai mengkritik pedas hingga turun ke jalanan menuntut kepada pemerintah saat itu.
Bagaimana kita tega, makan enak 3 kali sehari tanpa menyadari diluar sana banyak berpuasa. Bukan mengikuti ibadah agama tapi karena tidak punya sepeser uang pun untuk memenuhi kebutuhan dasar nya.
Ketertarikan saya saat ini adalah menjadi salah satu dari orang-orang yang melek akan keadaan sekitar, melakukan perubahan terhadap ketidak adilan, sedikit besar nya untuk Indonesia yang lebih baik. Saya yakin dengan kesadaran diri sendiri, akan ketidakadilan. Kita para pemuda bisa merubah Indonesia dari ketimpangan.
Perubahan
Jangan mau mulut dibungkam
Jangan rela keadilan ditenggelamkan
Ini bukan tentang keuntungan
Biarkan kita sendiri yang merasakan
Jangan mau diboneka kan zaman
Jangan mau ditikam pemerintahan
Ini bukan zaman rimba
Makan satu makan semua!!!
Bantul, 22 Oktober 2016
Saturday, 22 October 2016
Disini Berbeda
Disini memang masih
Indonesia
Yang kurang adalah
keluarga untuk bercerita
Tentang pikiran kabur
entah kemana
Pergi untuk mengambara
Pulang untuk nostalgia
-Gilang Haryanto-
Rindu
22 Oktober 2016
Friday, 21 October 2016
2 Bait Kecewa
Kenapa harus berbeda
Jarak saja kita tak seberapa
-Gilang Haryanto-
Kecewa
Bantul, 21 Oktober 2016
Jarak saja kita tak seberapa
-Gilang Haryanto-
Kecewa
Bantul, 21 Oktober 2016
Sunday, 16 October 2016
Semua Terlewati
Hari berganti hari...
Manusia bermetamorfosa...
Tapi hanya satu yang aku lihat
Satu titik terang
Datang dari kejauhan
Menyerang tanpa kasihan
Memperlihatkan semua kenangan
Aku tak bisa menyembunyikan nya
Ingin sekali ku menangkap nya
Ingin ku masukan kedalam toples
Menjadi penerang sebuah kegelapan
Tapi...
Tak terlihat raut senang disana
Tak terlihat untuk tinggal
Tapi...
Tak lantas aku menyerah
Tak lantas aku biarkan
Hingga aku sadar
Akhirnya aku sadar
Kau hanya lewat
-Gilang Haryanto-
Saat kecewa
Bantul, 6 Oktober 2016
Manusia bermetamorfosa...
Tapi hanya satu yang aku lihat
Satu titik terang
Datang dari kejauhan
Menyerang tanpa kasihan
Memperlihatkan semua kenangan
Aku tak bisa menyembunyikan nya
Ingin sekali ku menangkap nya
Ingin ku masukan kedalam toples
Menjadi penerang sebuah kegelapan
Tapi...
Tak terlihat raut senang disana
Tak terlihat untuk tinggal
Tapi...
Tak lantas aku menyerah
Tak lantas aku biarkan
Hingga aku sadar
Akhirnya aku sadar
Kau hanya lewat
-Gilang Haryanto-
Saat kecewa
Bantul, 6 Oktober 2016
Sendiri
Malam yang basah
Malam yang hening
Malam yang gelap
Sungguh kasihan
Disana terdapat seorang muda kesepian
Seakan banjir mewakili kesedihan
Hening mewakili kesendirian
Gelap mewakili ketiadaan
Tapi dia yakin...
Kala pagi akan datang
Datang cahaya yang menerangkan
Menjelaskan keberadaan
Datang cahaya yang menghangatkan
Mengeringkan luka yang dipendam
Datang cahaya yang menyilaukan
Meyakinkan kebahagiaan
-Gilang Haryanto-
Bantul, 10 Oktober 2016
Malam yang hening
Malam yang gelap
Sungguh kasihan
Disana terdapat seorang muda kesepian
Seakan banjir mewakili kesedihan
Hening mewakili kesendirian
Gelap mewakili ketiadaan
Tapi dia yakin...
Kala pagi akan datang
Datang cahaya yang menerangkan
Menjelaskan keberadaan
Datang cahaya yang menghangatkan
Mengeringkan luka yang dipendam
Datang cahaya yang menyilaukan
Meyakinkan kebahagiaan
-Gilang Haryanto-
Bantul, 10 Oktober 2016
Delusi
Saat kau sendirian
Berlari menyusuri nya
Mencari seorang untuk diajak berbicara
Terlihat titik terang
Kau berlari sekuat tenaga
Ternyata itu hanya kilatan
Kilatan sebuah khayalan
Percuma
-Gilang Haryanto-
Bantul, 4 Oktober 2016
Berlari menyusuri nya
Mencari seorang untuk diajak berbicara
Terlihat titik terang
Kau berlari sekuat tenaga
Ternyata itu hanya kilatan
Kilatan sebuah khayalan
Percuma
-Gilang Haryanto-
Bantul, 4 Oktober 2016
Thursday, 13 October 2016
Zaman Peralihan oleh Soe Hok Gie
Membaca buku Hok Gie ini membuat saya menyesal bukan
kepalang karena baru sekarang ini saya menyadari bahwa membaca adalah hal yang
menakjubkan, didalam nya kita bisa membayangkan dan merasakan apa yang kita
baca. Tapi seperti kata pepatah, tiada kata terlambat untuk sesuatu yang
bermanfaat. Karena itu, saya manfaatkan sisa hidup saya, masa muda saya untuk
menelan buku-buku yang dulu saya nilai berat. Awalnya susah, tapi itu adalah
tantangan, banyak hal yang tidak kita ketahui dan mendapat nya dari buku.
Buku
Hok Gie ini tidak lain adalah kumpulan-kumpulan tulisan lama dia yang
dikumpulkan oleh Stanley dan Aris Santoso. Di dalamnya banyak sekali pelajaran
yang kita ambil, tentang seorang keturunan China yang berjuang dinegara yang
keadilan nya dipertanyakan (pada masa itu). Hok Gie adalah seorang yang saya
cita-citakan, banyak sifat dan sikapnya yang sudah lama saya ingin terapkan
tapi terhalangi oleh ketakutan. Hal yang Hok Gie punya sedangkan saya tidak
adalah keberanian yang tidak kira-kira, seperti yang diceritakan di buku ini,
dia seringkali bersuara mengkritik apa yang menurutnya tidak berlandaskan pada
keadilan sosial secara langsung maupun lewat tulisan. Seringkali tulisan Hok
Gie mewarnai sudut kecil dikoran-koran, tentang pendapatnya atau ketidakpuasan nya
terhadap pemerintahan Orde Lama.
Kurang
lebihnya saya ingin seperti Hok Gie yang berani mengkritik atau menyanggah
secara langsung ketika ada dosen/gurunya yang berbica tidak berdasarkan
landasan kebenaran. Tapi, apa yang saya rasakan tidak lebih dari ketakutan,
saya belum siap menjadi satu titik merah diantara kertas putih, walaupun saya
yakin saya benar. Tapi berkat tulisan Hok Gie setidaknya keberanian saya
terkumpul. Apa yang saya takutkan? Hok Gie saja yang pada masa nya diteror dari
banyak pihak karena pikiran kritisnya, kritik pedas nya yang dianggap mengancam
eksistensi pemerintahan Soekarno, bahkan dianggap seorang PKI tidak merasa
gentar akan semua ancaman itu, walaupun taruhan nya nyawa demi keadilan dia
tetap maju.
Sekarang
adalah masa nya kemajuan teknologi, jikan koran tidak bisa mencantumkan tulisan
jelek saya, saya akan menulisnya di Blog. Sekarang adalah zamannya seseorang
berpikir kritis, berbicara lantang saat keadilan dipertaruhkan, saat kebenaran
mulai memudar. Don’t be scare if you dying, if you dying with the truth. Mulai
lah berani berbicara jika menemukan ketidak adilan, ketidak benaran. Mungkin
hidup kalian merasa nikmat karena terlahir dikeluarga yang berada, tapi kita
adalah makhluk sosial, mulai lah merasa kan apa yang mereka rasakan, mereka
yang tertindas karena korban kerakusan kaum imperialis, mulailah bertindak
menuntut keadilan yang hakiki.
Hok Gie
meninggal menurut keinginannya, dia meninggal saat dunia nya membosankan,
setiap hari datang keruangan nya, berpindah dari kelas ke kelas, memberikan mata
kuliah di Universitas kebanggaan nya dahulu seperti perkataannya “Kehidupan
sekarang benar-benar membosankan saya. Saya seperti monyet tua dikurung di
kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan yang
kasar dan keras untuk seminggu kira-kira. Diusap oleh angin dingin yang seperti
pisau atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Dekat dan menyatu
dengan alam”. Sedangkan yang dia inginkan adalah dunia yang penuh dengan
kesibukan, penuh tantangan yang menimbulkan sifat keberaniannya muncul. Dia
sangat menyukai puisi salah satu filsuf Yunani.
Cita-cita Mati Muda
Cita-cita Mati Muda
Nasib terbaik adalah
tidak dilahirkan
Yang kedua dilahirkan
tapi mati muda, dan
Yang tersial adalah
umur tua
Rasa-rasanya memang
begitu
Berbahagialah mereka
yang mati muda
Seakan
itu adalah bocoran akan kematiannya, selain itu Hok Gie juga meninggal di
Gunung Semeru, Hok Gie sangat mencintai hobi nya seperti yang pernah dia
ucapkan “Hanya dipuncak gunung saya merasa bersih”. Dan sebelum ia memulai
pendakiannya pada tanggal 16 Desember 1969 (sehari sebelum ulang tahunnya yang
ke-27) ia menulis catatan dalam buku hariannya, “Saya punya perasaan untuk
selalu ingat pada kematian”. Atau perkataannya “Orang-orang seperti kita tidak
pantas mati di tempat tidur.”
Hok Gie
telah tiada, sayang dia tidak melihat berbagai keburukan dan kebusukan
pemerintahan Orde Baru, mungkin dia akan menantang dengan keras tentang
pembatasan berbicara pada masa itu. Atau dia akan menangis tersedu-sedu saat
melihat banyaknya pemimpin yang korup dizaman sekarang yang (katanya) akan
dihukum mati bila terbukti tapi tidak jadi-jadi. Namun, semangatnya akan
keadilan, anti-imperialis, pencinta kebenaran tak akan berhenti. Saatnya kita,
sebagai masyarakat muda yang meneruskan perjuangannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)