Thursday, 27 October 2016

One More Step

Memang, tak ada yang lebih indah daripada pertemuan.
Sesampainya distasiun saya disambut oleh seorang teman yang dulu, waktu kita masih SMA berjuang bersama. Terimakasih ya Allah telah memberikan kenikmatan berupa hangatnya pertemanan. Yang ada saat kita membutuhkan, yang senantiasa mendukung saat kita dijatuhkan.

Cirebon malam tidak seperti Jogja, maupun Bantul, disini sepi. Tidak banyak yang berubah sejak saya terakhir kesini. Tapi dari sini hanya satu jam untuk "pulang". Kadang iri rasanya, teman yang kuliah disini bisa pulang jika ia merasa rindu, kapanpun ia mau.
Tapi saya, jarak saja membentang. Bisa Pulang pun merelakan waktu dan uang.

Ini bukan tentang kuat atau tidak, masalah rindu tidak bisa disembunyikan, apalagi kepada orangtua.

Satu Langkah Lagi
Tidak sabar rasanya menyambut pagi
Tidak sabar rasanya pulang kembali
Matahari bersinar mengantarkan kepulangan
Membawa raga menebus kerinduan

-Gilang Haryanto-
Majalengka i'll coming
Cirebon, 27 Oktober 2016

This Is My Time

Pertama kali dalam sejarah hidup saya merasakan kendaraan sejuta umat ini. Ada pun yang saya rasakan adalah kenyamanan, jauh dari yang pernah saya dengar. Katanya dahulu, seringnya penumpang merasa tidak nyaman karena ketidakteraturan didalam gerbong. Katanya dahulu, orang membawa tikar, bantal dan lain-lain kedalam gerbong. Sehingga, susahnya penumpang lain untuk lewat keluar ataupun sekedar untuk ke kamar kecil. Tapi semuanya berubah, cukup cepat. Dalam hal ini perusahaan negara mendapat nilai plus dari saya.

Banyak yang saya pelajari disini, dewasanya kita harus lebih peka melihat keadaan sekitar. Saya belajar bersabar dikala menunggu kereta yang akan saya tumpangi datang. Kereta yang akan membawa saya pulang. Keadaan sekitar banyak mengandung makna yang terselubung.

Keinginan pulang ini, tidak bosan-bosan saya utarakan. menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Saya merasakan keinginan kali ini ada sebab nya, memang karena rindu ini menggebuk-gebuk. Tapi saya pikir ada hal lain yang sampai-sampainya menarik keinginan ini begitu kuat.

Meskipun akan terjadi sesuatu, masa bodo. Yang penting untuk sekarang saya dalam perjalanan pulang, yang dengan cepat atau lambat akan tahu jawaban dari semua ini.

Perjalanan yang nikmat, ditemani sentuhan musik klasik The Beatles, dan oleh Sore yang seakan tak ingin kalah walaupun menempuh jalur indie. Tak ketinggalan pula ditemani buah tulisan Soe Hok Gie si kritis.

"Rumah", sebentar lagi saya datang.

18.36
Gajahwong 13D, 26 Oktober 2016

Tuesday, 25 October 2016

Rindu Untuk Pulang

Terlalu cepat rindu ini datang, seakan apa yang saya lakukan hanya untuk mengisi waktu yang luang. Yang saya rasakan hanya kejenuhan yang datang bertubi-tubi, hal yang terpikir hanya lah pulang. Ya, pulang seakan ada yang tertinggal dikota kecil sana yang penuh dengan tulisan-tulisan perjalanan, menarik saya untuk kembali melakukan kesibukkan saya yang berarti maupun hanya menghabiskan waktu disana. Padahal kamis kemarin keluarga datang sekedar menengok dan memastikan anak sulungnya ini tidak apa-apa, hanya saja dua hari kurang untuk saya, juga si Ibu yang katanya masih rindu dia ucapkan dipesan singkat. 

Bulat keinginan saya untuk pulang, ditambah lagi masalah yang datang dan kejenuhan ini sudaah menjadi-jadi, harapan saya sepulang dari sana, saya mendapatkan sesuatu yang berarti untuk dilakukan disini perantauan yang sepi. Banyak hal yang ingin saya lakukan sebenernya, hanya saja sudah mencoba berapa kali tetapi tetap saja sama, satu hal yang menghadang keinginan saya yaitu birokrasi dan formalitas yang katanya untuk memfilter orang-orang baru. Menurut saya untuk apa difilter, toh niat kita melakukan hal yang baik. Walaupun menghindari kerusakan dari dalam, filter saja bila sudah dilihat di lapangan, jangan menghalangi niat baik dan keinginan seseorang. Siapa yang tahu besok lusa dia akan melakukan yang sebaliknya.

Cukup muak dengan birokrasi dan formalitas tadi, masa bodo. Yang saya inginkan hanya lah pulang. Sebenarnya apa yang akan terjadi disana menjadi satu misteri, tak seperti biasanya rasa rindu ini seakan menghantui. Bukan ini menjadikan ini hyperbola, tapi saya rasa ini murni sebuah panggilan batin, yang bisa saya doakan hanya satu. Semoga tak ada hal buruk terjadi disana. Jangan sampai feeling ini adalah feeling tentang kebobrokan yang terjadi di keluarga, saudara maupun kota saya. I don’t wanna miss a thing.

Bantul, 25 Oktober 2016

Sunday, 23 October 2016

Ketimpangan

Sebenarnya apa yang saya lakukan dua bulan belakangan ini, belajar terus menerus tentang ilmu yang katanya bermanfaat untuk menjalin hubungan dengan negara lain dan terkait didalamnya. Walaupun keinginan belajar tidak seantusias keinginan saya melahap buku sosial dan sastra.

Semakin lama saya belajar semakin saya tidak tertarik, bukan karena tidak bermanfaat tapi menurut saya di Indionesia sendiri masih banyak yang harus dibenahi. Senyuman nenek tua yang di trotoar jalan Malioboro dengan pakaian kucel, kotor dan nasi kucing hasil bikinannya sendiri, yang masih penuh tanpa berkurang di keranjang seakan mencerminkan kurangnya keseimbangan yang kita (masyarakat Indonesia) dapatkan.

Muka lusuh dan senyuman kepada setiap orang seakan mendeskripsikan kesabarannya, berharap ia membeli hasil masakannya itu. Saya yakin, bukan tidak mau dia bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi pekerjaan apa yang masih sanggup ia kerjakan, sedangkan masa jaya dan semangatnya telah habis 30-40 tahun lalu, sekarang hanya kelelahan yang cepat ia rasakan.

Ketimpangan seperti itu yang membuat saya sadar mengapa Tan Malaka dan Soe Hok Gie tak pernah lelah berjuang. Berpikir kritis, mengemukakan pendapat tentang apa yang ada disekitarnya, bahkan sampai mengkritik pedas hingga turun ke jalanan menuntut kepada pemerintah saat itu.

Bagaimana kita tega, makan enak 3 kali sehari tanpa menyadari diluar sana banyak berpuasa. Bukan mengikuti ibadah agama tapi karena tidak punya sepeser uang pun untuk memenuhi kebutuhan dasar nya.

Ketertarikan saya saat ini adalah menjadi salah satu dari orang-orang yang melek akan keadaan sekitar, melakukan perubahan terhadap ketidak adilan, sedikit besar nya untuk Indonesia yang lebih baik. Saya yakin dengan kesadaran diri sendiri, akan ketidakadilan. Kita para pemuda bisa merubah Indonesia dari ketimpangan.

Perubahan
Jangan mau mulut dibungkam
Jangan rela keadilan ditenggelamkan
Ini bukan tentang keuntungan
Biarkan kita sendiri yang merasakan

Jangan mau diboneka kan zaman
Jangan mau ditikam pemerintahan
Ini bukan zaman rimba
Makan satu makan semua!!!

Bantul, 22 Oktober 2016 

Saturday, 22 October 2016

Disini Berbeda



Disini memang masih Indonesia
Yang kurang adalah keluarga untuk bercerita
Tentang pikiran kabur entah kemana

Pergi untuk mengambara
Pulang untuk nostalgia

-Gilang Haryanto-
Rindu 
22 Oktober 2016

Friday, 21 October 2016

2 Bait Kecewa

Kenapa harus berbeda
Jarak saja kita tak seberapa

-Gilang Haryanto-
Kecewa
Bantul, 21 Oktober 2016

Sunday, 16 October 2016

Semua Terlewati

Hari berganti hari...
Manusia bermetamorfosa...

Tapi hanya satu yang aku lihat
Satu titik terang
Datang dari kejauhan
Menyerang tanpa kasihan
Memperlihatkan semua kenangan

Aku tak bisa menyembunyikan nya
Ingin sekali ku menangkap nya
Ingin ku masukan kedalam toples
Menjadi penerang sebuah kegelapan

Tapi...
Tak terlihat raut senang disana
Tak terlihat untuk tinggal

Tapi...
Tak lantas aku menyerah
Tak lantas aku biarkan

Hingga aku sadar
Akhirnya aku sadar
Kau hanya lewat

-Gilang Haryanto-
Saat kecewa
Bantul, 6 Oktober 2016

Sendiri

Malam yang basah
Malam yang hening
Malam yang gelap
Sungguh kasihan

Disana terdapat seorang muda kesepian
Seakan banjir mewakili kesedihan
Hening mewakili kesendirian
Gelap mewakili ketiadaan

Tapi dia yakin...
Kala pagi akan datang
Datang cahaya yang menerangkan
Menjelaskan keberadaan

Datang cahaya yang menghangatkan
Mengeringkan luka yang dipendam
Datang cahaya yang menyilaukan
Meyakinkan kebahagiaan

-Gilang Haryanto-
Bantul, 10 Oktober 2016

Delusi

Saat kau sendirian
Berlari menyusuri nya
Mencari seorang untuk diajak berbicara
Terlihat titik terang
Kau berlari sekuat tenaga

Ternyata itu hanya kilatan
Kilatan sebuah khayalan
Percuma

-Gilang Haryanto-
Bantul, 4 Oktober 2016

Thursday, 13 October 2016

Zaman Peralihan oleh Soe Hok Gie

                Membaca buku Hok Gie ini membuat saya menyesal bukan kepalang karena baru sekarang ini saya menyadari bahwa membaca adalah hal yang menakjubkan, didalam nya kita bisa membayangkan dan merasakan apa yang kita baca. Tapi seperti kata pepatah, tiada kata terlambat untuk sesuatu yang bermanfaat. Karena itu, saya manfaatkan sisa hidup saya, masa muda saya untuk menelan buku-buku yang dulu saya nilai berat. Awalnya susah, tapi itu adalah tantangan, banyak hal yang tidak kita ketahui dan mendapat nya dari buku.
                Buku Hok Gie ini tidak lain adalah kumpulan-kumpulan tulisan lama dia yang dikumpulkan oleh Stanley dan Aris Santoso. Di dalamnya banyak sekali pelajaran yang kita ambil, tentang seorang keturunan China yang berjuang dinegara yang keadilan nya dipertanyakan (pada masa itu). Hok Gie adalah seorang yang saya cita-citakan, banyak sifat dan sikapnya yang sudah lama saya ingin terapkan tapi terhalangi oleh ketakutan. Hal yang Hok Gie punya sedangkan saya tidak adalah keberanian yang tidak kira-kira, seperti yang diceritakan di buku ini, dia seringkali bersuara mengkritik apa yang menurutnya tidak berlandaskan pada keadilan sosial secara langsung maupun lewat tulisan. Seringkali tulisan Hok Gie mewarnai sudut kecil dikoran-koran, tentang pendapatnya atau ketidakpuasan nya terhadap pemerintahan Orde Lama.
                Kurang lebihnya saya ingin seperti Hok Gie yang berani mengkritik atau menyanggah secara langsung ketika ada dosen/gurunya yang berbica tidak berdasarkan landasan kebenaran. Tapi, apa yang saya rasakan tidak lebih dari ketakutan, saya belum siap menjadi satu titik merah diantara kertas putih, walaupun saya yakin saya benar. Tapi berkat tulisan Hok Gie setidaknya keberanian saya terkumpul. Apa yang saya takutkan? Hok Gie saja yang pada masa nya diteror dari banyak pihak karena pikiran kritisnya, kritik pedas nya yang dianggap mengancam eksistensi pemerintahan Soekarno, bahkan dianggap seorang PKI tidak merasa gentar akan semua ancaman itu, walaupun taruhan nya nyawa demi keadilan dia tetap maju.
                Sekarang adalah masa nya kemajuan teknologi, jikan koran tidak bisa mencantumkan tulisan jelek saya, saya akan menulisnya di Blog. Sekarang adalah zamannya seseorang berpikir kritis, berbicara lantang saat keadilan dipertaruhkan, saat kebenaran mulai memudar. Don’t be scare if you dying, if you dying with the truth. Mulai lah berani berbicara jika menemukan ketidak adilan, ketidak benaran. Mungkin hidup kalian merasa nikmat karena terlahir dikeluarga yang berada, tapi kita adalah makhluk sosial, mulai lah merasa kan apa yang mereka rasakan, mereka yang tertindas karena korban kerakusan kaum imperialis, mulailah bertindak menuntut keadilan yang hakiki.
                Hok Gie meninggal menurut keinginannya, dia meninggal saat dunia nya membosankan, setiap hari datang keruangan nya, berpindah dari kelas ke kelas, memberikan mata kuliah di Universitas kebanggaan nya dahulu seperti perkataannya “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya seperti monyet tua dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan yang kasar dan keras untuk seminggu kira-kira. Diusap oleh angin dingin yang seperti pisau atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Dekat dan menyatu dengan alam”. Sedangkan yang dia inginkan adalah dunia yang penuh dengan kesibukan, penuh tantangan yang menimbulkan sifat keberaniannya muncul. Dia sangat menyukai puisi salah satu filsuf Yunani.

Cita-cita Mati Muda
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan
Yang tersial adalah umur tua
Rasa-rasanya memang begitu
Berbahagialah mereka yang mati muda
                
                Seakan itu adalah bocoran akan kematiannya, selain itu Hok Gie juga meninggal di Gunung Semeru, Hok Gie sangat mencintai hobi nya seperti yang pernah dia ucapkan “Hanya dipuncak gunung saya merasa bersih”. Dan sebelum ia memulai pendakiannya pada tanggal 16 Desember 1969 (sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27) ia menulis catatan dalam buku hariannya, “Saya punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian”. Atau perkataannya “Orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur.”
                Hok Gie telah tiada, sayang dia tidak melihat berbagai keburukan dan kebusukan pemerintahan Orde Baru, mungkin dia akan menantang dengan keras tentang pembatasan berbicara pada masa itu. Atau dia akan menangis tersedu-sedu saat melihat banyaknya pemimpin yang korup dizaman sekarang yang (katanya) akan dihukum mati bila terbukti tapi tidak jadi-jadi. Namun, semangatnya akan keadilan, anti-imperialis, pencinta kebenaran tak akan berhenti. Saatnya kita, sebagai masyarakat muda yang meneruskan perjuangannya.