Terbesit pikiran untuk mengisi liburan dihari raya Imlek, imlek ditahun ber-shio seperti sieta. "Nonton" menjadi ketertarikan awal yang akhirnya membuahkan pikiran jernih bahwa ada hal yang lebih "edandah".
Akhirnya, diajaklah aku ke kota bekas kerajaan Sumedang Larang... tidak perlu pikir panjang karena dirasa akan lebih mengasyikan dibanding menghabiskan waktu diruangan setengah kulkas. Tidak sedikit juga yang minta ikut, walaupun juga minta tumpangan.
Menjadi-jadilah pasar bayangan dikepala, membayangkan keasyikan yang tercipta akan sangat luar biasa karena ramai-ramai menjajah kota orang... menjajah keindahannya.
Setelah diputuskan untuk memulai perjalanan, datanglah satu persatu hambatan. Salah satunya hujan, walaupun dianggap keberuntungan oleh umat yang merayakan Imlek tapi cukup membuat pengaruh terhadap kelancaran perjalanan, karena aku memakai kuda besi... walaupun plastik menjadi dominasi.
Sampai ditempat yang dituju, Kampung Toga. Suatu kampung yang justru menjadi misteri mengapa disebut "kampung". Ah entahlah aku tak peduli.
Yang penting kita dibuat menganga karenanya, keindahan alam yang Allah ciptakan jauh lebih indah dari lukisan-lukisan seorang maestro kelas dunia yang dilelang dengan harga diri serta harga mati. Kenangan ini, diabadikan melalui jepretan gambar, walaupun aku sadar sebuah kenangan justru bertempat dipikiran.
Saat dirasa cukup, atau lebih tepatnya dicukup-cukupi. Pulanglah kita ke kota kecil yang dipenuhi tumpukan masalah. Berharap perjalanan pulang akan lebih mulus karena lelahnya kita, ternyata sama saja. Kamu jalan penuh dusta, egois, tidak berubah walaupun diharapkan.
Tapi setelah semua hambatan dilalui, justru itu menjadi topik mengasyikan, menghibur kita yang kurang hiburan. Dari sanalah aku belajar.
Aku tidak akan terlalu terpaku kepada tujuan. Walaupun aku tahu itu penting, tapi aku lebih tahu bahwa perjalanan untuk mencapai suatu tujuan bahkan lebih memiliki pelajaran yang tidak bisa digantikan.
Belajarlah menghargai suatu proses, dan bersyukurlah selalu datang kebahagiaan setelah kepedihan memporak-poranda.
No comments:
Post a Comment