Terlalu cepat rindu ini
datang, seakan apa yang saya lakukan hanya untuk mengisi waktu yang luang. Yang
saya rasakan hanya kejenuhan yang datang bertubi-tubi, hal yang terpikir hanya
lah pulang. Ya, pulang seakan ada yang tertinggal dikota kecil sana yang penuh
dengan tulisan-tulisan perjalanan, menarik saya untuk kembali melakukan
kesibukkan saya yang berarti maupun hanya menghabiskan waktu disana. Padahal
kamis kemarin keluarga datang sekedar menengok dan memastikan anak sulungnya
ini tidak apa-apa, hanya saja dua hari kurang untuk saya, juga si Ibu yang katanya
masih rindu dia ucapkan dipesan singkat.
Bulat keinginan saya
untuk pulang, ditambah lagi masalah yang datang dan kejenuhan ini sudaah
menjadi-jadi, harapan saya sepulang dari sana, saya mendapatkan sesuatu yang
berarti untuk dilakukan disini perantauan yang sepi. Banyak hal yang ingin saya
lakukan sebenernya, hanya saja sudah mencoba berapa kali tetapi tetap saja
sama, satu hal yang menghadang keinginan saya yaitu birokrasi dan formalitas yang
katanya untuk memfilter orang-orang baru. Menurut saya untuk apa difilter, toh
niat kita melakukan hal yang baik. Walaupun menghindari kerusakan dari dalam,
filter saja bila sudah dilihat di lapangan, jangan menghalangi niat baik dan
keinginan seseorang. Siapa yang tahu besok lusa dia akan melakukan yang
sebaliknya.
Cukup muak dengan
birokrasi dan formalitas tadi, masa bodo. Yang saya inginkan hanya lah pulang.
Sebenarnya apa yang akan terjadi disana menjadi satu misteri, tak seperti
biasanya rasa rindu ini seakan menghantui. Bukan ini menjadikan ini hyperbola,
tapi saya rasa ini murni sebuah panggilan batin, yang bisa saya doakan hanya
satu. Semoga tak ada hal buruk terjadi disana. Jangan sampai feeling ini adalah
feeling tentang kebobrokan yang terjadi di keluarga, saudara maupun kota saya.
I don’t wanna miss a thing.
Bantul, 25 Oktober 2016
No comments:
Post a Comment